Hari Bahagia Part 3 : Wisuda UNDIP

Kamis Malam, 10 Agustus 2017

 

“Kamu besok wisudanya di gedung yang deket jalan raya itu yaa boo, duh apa si namanya? Pas aku kecil pernah kesana buat dateng ke wisudanya tanteku” Tanyaku lewat line.

“Engga boo, itu gedung Prof. Soedarto lagi direnovasi. Dan tahun ini wisudanya di Masjid Agung Jawa Tengah”

“Serius? Yah sayang banget dong gak ngerasain wisuda disana. Hahaha kamu dapet hari apa boo wisudanya?” Tanyaku kembali

“Iya o huhu sayang banget padahal pengen banget wisuda disitu, tapi mau gimana lagi. Aku besok boo” Balasnya

“Hah? Seriusan nih besok jumat?” Balasku terkejut

“Iya, jadi aku kasih tahu ke kamu nih ya. Di kampusku itu wisudanya dua kali, yang pertama yang udah kamu tahu itu namanya wisuda fakultas, terus besok itu wisuda kampus. Artinya semua fakultas wisuda di Masjid Agung itu, tapi dibagi dalam tiga hari. Nah fakultasku dapet yang hari Jumat” Jelasnya.

 

Hmm aku bener-bener baru tahu kalo wisuda di kampus besar itu dua kali. Kampusku Akper karena hanya ada 1 jurusan jadi cuma wisuda 1 kali besok September nanti.

 

“Sumpah yaa, aku baru tahu soal beginian hahaha. Jadi jam berapa kamu wisudanya?”

“Aku sih gasik karena ada gladi resik dulu baru setelah itu acara wisudanya. Kalo gasalah sih aku selesai sekitar jam 11an.”

 

Belum selesai aku mengetik balasan chatnya, tiba tiba datang lagi chat darinya.

 

“Mas, kamu mau kan dateng ke wisudaku besok ?”

“Tapi jauh sih, kalo engga bisa juga gapapa karena emang jauh kok :)”

“Hmm.. Insyaallah ya, coba deh besok wkwk”

 

Sejujurnya aku ingin membalas dengan kata-kata seperti “Tentu saja” atau “Sudah pasti aku akan datang” tapi aku takut membuatnya kecewa kalo ternyata aku tidak bisa datang. Jadi aku hanya bisa membalasnya seperti itu.

 

“Siap hehe, yaudah kuy bobok dah malem. Besok harus bangun jam 4 pagi buat make up dll hihi.”

“Jiahh dasar. Macak yang cantik yee besok wkwk. yaudah kuy bobok. ”

“Mang selama ini gak cantik? Kalo gak cantik kamu ga mungkin naksir aku ๐Ÿ˜‹”

“Engga juga wleekk ๐Ÿ˜”

“Boong dosa!”

“Iya deh iya yang cantik ._.”

“Wkwkw nah gitu dong ๐Ÿ˜Ž”

“Oiii,, ini kapan tidurnya kalo masih bales chat? ๐Ÿ˜ž” Tanyaku

“Hahaha bawel lu ah, iya iya ini mau bobok kok ๐Ÿ˜‚”

“Dasar ๐Ÿ˜ž yaudah night yaa. Luvvv”

“Night too boo, luvvv”

 

Sama seperti sebagian besar cowok lainnya, kalo udah pamitan tidur itu tidak berarti si cowok langsung tidur. Sama halnya denganku, bukannya langsung tidur malah main game push rank mobile legends sampe tengah malem hahaha.

Setelah merasa kesal karena sering kalah, aku memutuskan untuk mematikan handphoneku. Mengambil kabel charger, dan membiarkan handphoneku terisi penuh baterainya sementara aku tidur nyenyak.

 

Jumat, 11 Agustus 2017

 

Aku membuka kedua kelopak mataku. Dengan perasaan yang masih mengantuk, aku mengumpulkan sebagian nyawa untuk segera tersadar dan bangun dari tidur. Aku mengambil handphoneku yang berada di atas bantal kemudian melepas kabel chargernya.
Aku menyadari bahwa lampu led berwarna hijau selalu berkedip di bagian pojok atas sebelah kanan. Pertanda ada notifikasi masuk dari Line.

Hmm, ini pasti Dia.

Kuulurkan jari telunjukku ke bagian belakang handphone kemudian menempelkannya pada lingkaran fingerprints sensor.

Ugh, silau..

Aku buru-buru menurunkan tingkat kecerahan, dan mendapati kini waktu menunjukkan pukul 5 pagi dengan kondisi baterai yang sudah terisi penuh 100%. Dengan 1 jari, aku melakukan gerakan swipe down untuk menampilkan seluruh notifikasi yang masuk. Ada beberapa buah notifikasi email tentang kerjaan dan yang satunya lagi notifikasi Line. Menghiraukan email-email yang masuk untuk sementara, aku langsung menekan notifikasi Line terlebih dulu.

 

“Oiii banguuuunn”

Aku tersenyum kecil melihat isi chat darinya.

“Iya ini baru bangun kok hehe ๐Ÿ˜ช”

Tidak berapa lama kemudian, muncul chat balasan darinya.

“Buset, keboo banget ya kamu wkwk.. aku udah mau kelar make up kamu baru bangun.”

“Kamu yang keboo ๐Ÿ˜‘ coba mana selfie hihi”

“Ga mau, nanti ketemu langsung aja. Dah sana sholat subuh dulu”

“Gitu yaa ๐Ÿ˜ž iya ini mau wudhu dulu”

 

Aku taruh kembali handphoneku diatas kasur kemudian langsung pergi ke belakang untuk berwudhu dan sholat subuh. Setelahnya aku tinggal bebersih rumah lalu bantu ibuk kecil-kecilan di dapur untuk masak dan nyiapin sarapan pagi.

Sekitar pukul tujuh pagi, setelah selesai mandi aku membuka kembali Line dan mendapati dia telah mengirim sebuah foto yang memperlihatkan suasana didalam sebuah gedung.

 

“Oalah jadi kayak gitu dalam ruangannya, luas jugaa” balasku mengomentari foto yang ia kirim

“Iya mas, kamu gimana? Nanti jadi mau dateng kan? Tapi jauh sih hehe ๐Ÿ™ƒ”

 

Sudah bertahun-tahun aku mengenalnya, aku sangat paham bahwa dia sangat ingin aku datang ke hari bahagianya “wisuda” tapi disisi lain dia tidak ingin merepotkanku.

Dasar kamu ini, ucapku lirih seraya tersenyum kecil.

“Iya nanti aku pasti dateng kok, tenang aja ๐Ÿ˜”

 

Aku langsung mengecek isi dompetku yang cukup tebal dengan kartu-kartu seperti kartu perpustakaan, sim, stnk, dll tanpa kartu kredit ataupun kartu atm.

Hmm.. engga banyak ternyata yang kupunya saat ini, tapi semoga aja nyukup buat ongkos dan beliin dia sesuatu.

Setelahnya aku pergi menuju rak sandal dan sepatu, cukup bingung mau mengenakan sepatu atau sandal yang mana. Bukan saking banyaknya, melainkan cuma ada satu sandal dan satu sepatu yang kupunya. Miris memang ๐Ÿ˜‚

Setelah kupikir-pikir karena ini acaranya semi formal, jadi aku memilih sepatu pantofel hitam favoritku dan satu-satunya yang kupunya untuk dipake ditiap kuliah dan praktek. Kalo ada sneackers atau sepatu2 macem begituan pasti langsung kupake, tapi aku bukan orang yang begitu suka mengoleksi fashion. Yang penting nyaman dipake, udah gitu aja. ๐Ÿ˜…

Tentu saja, sebelum berangkat aku semir dulu pantofelnya sampai hitam mengkilat.

Untuk atasannya aku mengenakan hem berwarna ungu dengan tas kecil yang menggantung dipundak berisi kamera yang aku tahu pasti nanti akan sangat berguna.

Sedangkan bawahannya aku mengenakan celana kain warna hitam panjang yang biasa selalu kupakai saat pergi keluar. Dia pasti bisa langsung mengetahui kalo itu mas Tian hanya dilihat dari celana kain warna hitam yang kupakai. Hahaha ๐Ÿ˜‚

 

Dia pernah bilang; “Mas beli celana yang lain napa, celanamu itu mulu perasaan ๐Ÿ˜ž”

“Hahaha biarin ini celana bagus tauk! Nyaman dipake dan mudah dilinting buat wudhu. Juga keliatan sopan ๐Ÿ˜‚” jawabku ngeles.

 

Setelah semuanya siap, aku langsung memacu kuda besiku. Motor matic ini sudah menemaniku bertahun-tahun baik dalam mencari ilmu maupun sejak pertama kali kita kenal dan berjumpa, seolah motor matic ini sebagai saksi bisu kisah cinta ini.

Sekitar pukul 09.00 aku sedang dalam perjalanan dari Cepiring, Kendal – Menuju Semarang. Jalanan sempat terjadi macet, aku sempat khawatir kalo aku terlambat. Mana belum beli sesuatu untuk dia. Aku kembali teringat kalo ini adalah hari pendek, karena ini hari Jumat maka orang-orang akan pergi menunaikan ibadah shalat Jumat.

Aku bergegas dengan memacu kuda besiku untuk berlari lebih cepat lagi.

Akhirnya sampai juga..

Kini aku sudah sampai di kompleks toko bunga yang berada di jalan Dr. Soetomo. Aku tahu disekitaran sini banyak toko bunga karena aku pernah diajak Rino kesini untuk membeli sebuah bunga untuk kekasihnya.

Berbeda dengan waktu itu, kini tempat tersebut terlihat lebih tertata rapi dan penuh warna. Rasanya aku bakalan betah kalo duduk berlama-lama disini menikmati warna-warni bunga dan sepoi-sepoi angin karena tempatnya rindang dan teduh.

Sempat aku berpikir, enaknya pilih bunga jenis apa ya. Masak mawar, terlalu mainstream dan berduri. Namun setelah melihat bunga berwarna kuning tersebut, langsung kuputuskan untuk membeli Helianthus atau Bunga Matahari. Aku punya alasan tersendiri kenapa aku memilih bunga ini untuknyaย ๐Ÿ˜Š

“Halo mas, silahkan dipilih-pilih mau bunga yang mana” Sapa mbaknya pemilik toko bunga.

“Oh iya mbak ini saya sedang nyari bunga untuk wisudanya orang yang sangat berarti bagi saya” Jawabku sambil melihat-lihat bunga-bunga tersebut.

“Oh iya mas, silahkan.” Ucapnya ramah

“Mbak kalo bunga matahari yang ini berapa ya harganya?” Tanyaku.

“Oh kalo yang ini blablabla, ada juga yang blablabla dan harganya blablabla disesuaikan banyaknya bunga dan tingginya” Jelasnya

 

Seketika aku baru sadar bahwa aku tidak memiliki cukup banyak uang, yasudah tanpa berlama-lama dan menawar aku memutuskan untuk membeli bunga matahari tersebut.

 

“Yaudah yang itu aja mbak”

“Ok siap mas, ini mau dikasih tambahan bunga apa mas biar tambah meriah, sekalian warna pitanya” Tanyanya.

“Biasanya pake apa mbak tambahan bunganya?” Jujur aku tidak paham masalah ginian.

“Sini mas liat, biasanya pake bunga ini, ini, atau itu. Terserah masnya mau pilih yang mana”

“Yang itu aja deh mbak, sepertinya warna hijau dan putihnya bakal cocok dipadukan dengan warna kuning dan coklatnya bunga matahari”

“Oke mas, bentar ya saya rangkai bunganya dulu”

 

Setelah menunggu lebih dari 15 menit sambil duduk santai, menikmati sepoi-sepoi angin dan harum wewangian akhirnya jadi juga seikat bunga.

Aku sedikit terperangah karena bunga matahari tersebut kini tampak begitu cantik.

 

“Sudah mbak? Ini ya..” Sambil menyodorkan uang dari dalam dompetku.

“Terima kasih mas, selamat ya buat mbaknya. Saya tahu kok kenapa masnya memilih bunga itu” Ucapnya yang sedikit membuatku terkejut.

“Ah, iya hehe. Terima kasih mbak” Ucapku berpamitan meninggalkan toko tersebut.

 

Aku berjalan menuju motorku dengan langkah yang bersemangat, tak sabar untuk segera memberikan bunga ini kepadamu.

Eh,

Aku baru sadar kalo dibelakang kompleks penjual bunga tersebut ternyata adalah kampung pelangi semarang.

Aku sedikit terkekeh, kemana saja aku ini. Pikirku.

Aku mengangkat tangan kiriku untuk melihat arloji hitamku, cukup terkejut mendapati waktu bahwa kini sudah menunjukkan pukul 10:45.

Waduh, semoga aku tidak terlambat..

 

Prit prit prit…

 

Aku merogoh saku jaketku, kemudian memberikan sejumlah uang melalui tangan kananku.

 

“Ini pak, terima kasih ya”

Bapak tukang parkir tersebut terlihat tengah mengambil beberapa uang kembalian dari sakunya.

“Eh, kembaliannya ambil saja pak. Sudah rejekinya bapak”

“Waduh, terima kasih banyak ya mas. Mau ke arah mana ini?” Tanyanya

“Saya mau putar balik nih pak” jawabku sambil mengatur posisi motor untuk menyeberang

“Oke mas, hati-hati ya” jawabnya sambil membantuku menyeberangkan jalan

 

Aku pergi meninggalkan bapak tukang parkir tersebut dengan memberikan sedikit anggukan kepala dan klakson.

 

Here I go..

 

Aku sudah hafal betul lokasi Masjid Agung Jawa Tengah tanpa bantuan Google Maps lantaran aku pernah ngekost disekitar daerah Masjid Agung semasa aku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Pendidikan di daerah sana.

Melewati Barito, aku sengaja sedikit memelankan laju sepeda motorku untuk mengenang masa-masa survive sebagai maba di tempat tersebut. Oh jembatan kartini, masih sama seperti dahulu. Namun bedanya kini sudah tidak ada macet lagi seperti jamanku waktu itu yang sering sekali macet, terutama saat pagi hari banyak anak sekolah berangkat ke sekolah.

Kini aku sudah sampai di tempat parkir Masjid Agung Jawa Tengah. Banyak sekali kendaraan yang sudah terparkir disana. Dan terlihat banyak sekali orang-orang berlalu lalang entah itu mungkin teman, pacar, atau kerabat dari yang akan diwisuda hari ini.

Banyak dari mereka yang membawa bunga ataupun boneka sebagai hadiah wisuda.

Awalnya aku sedikit ragu apakah harus membawa bunga tersebut bersama plastik kreseknya, karena jujur baru pertama kali ini aku membawa bunga. Dan aku ngerasa agak weird gitu sebagai cowok untuk menenteng2 bunga wkwk (im not romantic person)

Tapi yaudahlah, demi kamu apapun akan kulakukan!

Aku simpan plastik kresek tersebut kedalam jok, dan aku pegang bunga matahari tersebut. Disini aku baru sadar kalo bunga yang sedang aku bawa ini ukurannya lebih kecil/pendek dibanding bunga dari yang orang-orang yang mereka bawa.

Duh, bodoh banget aku.. Ucapku lirih sambil menepuk jidat.

Sebelum aku melangkah meninggalkan parkiran tesebut, aku menyempatkan sejenak untuk mengirim pesan Line.

 

“Heyy, aku sudah di Masjid Agung ini”

Tak berapa lama, datang pesan balasan

“Hah serius mass?? Aku bentar lagi keluar kok ini. Tunggu yaa”

“Iya dong wkwk, santai aja ๐Ÿ‘Œ๐Ÿป”

 

Aku mengantongi handphoneku lalu berjalan meninggalkan tempat parkiran tersebut. Berjalan mengikuti arus orang-orang berjalan menuju tempat yang sering digunakan untuk pertemuan seperti untuk wisuda. Sudah banyak banget orang-orang yang menunggu diluar, menunggu peserta wisuda selesai dan keluar dari ruangan.

Cuaca yang sangat cerah dan terik ini sukses membuatku yang mudah berkeringat ini sedikit mengeluarkan air keringat. Ini dikarenakan aku yang mengenakan hem berlengan panjang serta tidak adanya tempat buat ngadem, yaudah aku menunggu dibawah terik sinar matahari.

Aku selalu melihat sekeliling barangkali ada orang yang ku kenal, namun nihil. Aku merasa seperti orang asing yang sendirian disini haha, tapi yaudahlah. Bodo amat. Bukankah selalu seperti itu sejak dulu pertama kali kita berjumpa, aku selalu berani untuk datang sendiri menemuimu.

Mungkin sekitar 15 menit aku menunggu, satu persatu peserta wisuda keluar dari ruangan. Canda tawa serta haru biru air mata kebahagiaan terlihat dimana-mana. Dekap hangat keluarga karena bangga putra/putrinya telah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi juga turut memeriahkan atmosfer kebahagiaan hari ini.

Aku sedikit tercengang merasakan atmosfer ini, gatahu harus ngomong apa untuk menggambarkan suasana pada hari itu. Yang jelas aku turut bahagia bisa menjadi bagian dari hari bahagia ini. Bahkan ketika sekarang aku menulis tentang cerita ini, aku masih sangat hafal setiap inci dari atmosfer kebahagiaan tersebut. Tanpa sadar, aku sedikit menyunggingkan senyuman kecil menikmati suasana ini.

Namun misiku belumlah usai, aku harus menemukannya terlebih dahulu.

Aku cari kesana kemari namun masih belum ketemu, tetiba handphoneku bergetar dan mendapati pesan berisi;

Disini tempatku berada, tengah menunggu dia keluar ruangan

 

“Mas, tengok ke sebelah kiri”

Aku langsung menengok ke sebelah kiri, tanpa sadar aku mematung sejenak melihat paras cantiknya dengan senyuman lebar pertanda bahwa dia begitu sangat bahagia hari ini.

Melihatnya begitu bahagia, tanpa sadar aku hendak meneteskan air mata. Air mata kebahagiaan. Dia yang menyadari bahwa diriku masih mematung didepan sana, melambaikan tangan dan tersenyum kepadaku.

 

“Mas sini” ucapnya lirih yang tak kudengar karena keriuhan suara orang-orang sekitar.

 

Aku mengusap kedua kelopak mataku, dan dengan segera membalas senyumannya seraya mengacungkan jempol kananku.

 

“Good Job ๐Ÿ‘๐Ÿป”

 

Aku berjalan perlahan mendekat kearahnya yang kini telah dikerubuni oleh teman-teman dan saudaranya. Rasanya seperti aku ingin sekali memeluknya, bahwa aku sangat bangga terhadapnya.

 

“Ehm.. selamat yaa. Aku bangga sama kamu” Ucapku agak sedikit gugup

“Makasih yaa mas udah dateng” Balasnya senyuman terindah miliknya

“Oh iya, ini ada sedikit hadiah dariku hehe” Seraya menyodorkan tangan memberikan bunga matahari

“Waaahhh… Makasih mas” Ucapnya dengan mata berbinar

 

Aku sedikit membantunya untuk menerima bunga pemberianku, karena kedua tangannya sudah penuh oleh berbagai macam bunga pemberian teman-teman dan saudaranya.

 

“Yuk foto yuk, aku bawa kamera ini” ucapku kepada seluruh teman-teman dan saudaranya.

Satu persatu dari mereka aku fotoin semua dengannya.

 

“Masak motoin mulu, sini aku fotoin mas” Ucap saudara perempuannya yang juga berkuliah di Undip dan sudah alumni

“Ehehe maaf mbak, jadi ngerepotin. Ini nanti tinggal pencet tombol shutternya aja di sebelah sini ya”

“Oke siap”

“Coba lebih deket lagi” ucapnya

Aku yang selalu merasa agak kaku tiap kali difotoin, nurut saja apa kata mbak Onik

“Yak bagus. 1 2 3. Cherss”

 

Cekrek!

 

“Maaf ya semuanya, aku gak bisa lama-lama karena aku harus kembali ke keluargaku”

“Iya rik gapapa kok ๐Ÿ˜” Ucap salah seorang temannya.

“Maaf banget ya mas, aku gabisa lama-lama”

“Selow, santai aja hehe ๐Ÿ‘๐Ÿป”

Dia berpamitan dan kembali ke keluarganya bersama mbak Onik. Meninggalkan aku bersama teman-temannya.

Satu-persatu teman-temannya mulai berpamitan.

 

“Mas aku cabut dulu ya”

“Eh iya, makasih ya semuanya udah dateng ke wisudanya hehe”

“Oke mas, siap”

Sudah datang jauh-jauh kesini, dari pada langsung pulang mending aku keliling masjid dulu. Aku sempat mengabadikan momen-momen bahagia dari orang-orang pada hari itu menggunakan kameraku.

Drrt drrt drrrtt..

Handphoneku bergetar, dan aku mendapati chat darinya melalui Line.

 

“Mas maaf bangett yaa, kamu udah jauh-jauh dateng tapi malah aku langsung pulang. Aku pengennya masih disitu dulu yang lama.”

“Ahaha bicara apa kau ini, aku sudah sangat senang dan bahagia melihatmu begitu bahagia hari ini. Good Job Bos ๐Ÿ‘๐Ÿป”

“Oh ya, maap kalo bungaku yang paling kecil diantara yang lain hehe ๐Ÿ™๐Ÿป”

“Engga kok, aku malah suka. Bunga darimu baguss mas ๐Ÿ˜Š”

“Apa kamu tahu kenapa aku memberimu bunga matahari bukannya mawar atau yang lainnya?”

“Engga mas, emang apa?”

“Bunga matahari atau helianthus adalah bunga yang sangat setia, ia selalu mengikuti kemana arah matahari bergerak. Dan kamu adalah orang yang tertulus dan selalu setia denganku. Kamu adalah helianthusku, dan aku juga ingin selalu menjadi helianthusmu” Jelasku.

 

Mission Completed!

Good Job Tian, You Doing Great Today ๐Ÿ‘Œ๐Ÿป

 

Congratulation for Your Graduation

D3 Keuangan Daerah

Soon!

S1 Akuntansi

Doaku senantiasa menyertaimu selalu

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

Tinggalkan komentar agar aku bisa berkunjung ke blog kalian :)

%d blogger menyukai ini: